Tolak Lanjutan IKN, Rocky Gerung : Berbahaya Secara Diplomasi, Geopolitik, dan Kebudayaan

JAKARTA – Pengamat politik, Rocky Gerung dengan tegas menolak pembangunan Ibu Kota Negara atau IKN dilanjutkan di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Alasannya, pembangunan IKN sudah menggerogoti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Tadinya IKN adalah business to business, ya oke. Tapi, lama-lama menggerogoti APBN,” kata Rocky Gerung dalam konferensi persnya di bilangan Menteng, Jakarta, Sabtu (5/8/2023).

“Pada saat yang sama, APBN itu mestinya bisa dipakai untuk mem-backup anak-anak Kalimantan,” ujarnya.

Menurut Rocky, dengan APBN itu seharusnya pendidikan anak-anak di Kalimantan bisa lebih tinggi. Selain itu, juga terjadi stunting di sana.

Rocky menegaskan bahwa pernyataan yang disampaikannya itu semata-mata untuk membela masyarakat adat di Kalimantan.

“Kan saya melakukan pembelaan kepada masyarakat adat,” tutur Rocky.

Karena itu, Rocky justru merasa heran ketika masyarakat Dayak justru mengira bahwa dirinya menghina adat suku di Kalimantan itu.

“Tiba-tiba masyarakat Dayak mengira saya menghina adat Dayak. Di mana hinaannya? Saya justru membela hak masyarakat adat untuk tidak dieksploitasi oleh investor China,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Rocky menjelaskan, bahwa dirinya seringkali ke Kalimantan diundang masyarakat adat hingga pihak universitas untuk diminta pendapatnya soal Ibu Kota Negara atau IKN.

“Tetap, pendapat saya IKN ini berbahaya secara diplomasi, berbahaya secara geopolitik, berbahaya secara kebudayaan,” tutur Rocky.

“Karena kalau ada IKN di situ, pasti masyarakat adat akan tersingkir. Itu artinya hilang jejak mutual kita di situ.”

Rocky Gerung pun kembali menegaskan sejak awal dirinya selalu membela masyarakat adat Dayak dan lainnya yang berada di Kalimantan.

“Jadi, saya menagaskan bahwa saya mencintai bumi Kalimantan, karena itu saya tetap bertahan agar jangan dijual,” ucap Rocky Gerung.

Adapun pernyataan Rocky Gerung tersebut disampaikan menanggapi lawatan Presiden Joko Widodo atau Jokowi ke China yang meminta kepada investor negeri Tirai Bambu itu untuk berinvestasi membangun IKN.

“Bahkan, kira-kira Pak Jokowi bilang sudah saya kasih konsesi 180 tahun, Anda tolong buatkan kami ibu kota. Bagaimana mungkin, itu sama saja menjual negara,” ujarnya. (Gelora.co)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *