Tangisan Fatimah, Melihat Wajah Nabi SAW. Pucat Karena Susah Payah Tegakkan Dakwah

THABRANI, Abu Nu’aim dalam Kitab Hilyatul-Auliya, dan Al- Hakim meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani, ia berkata: suatu ketika Rasulullah saw. datang dari sebuah peperangan yang Beliau ikuti. Beliau masuk ke masjid, lalu mendirikan shalat dua rakaat di dalamnya — apabila baru datang dari perjalanan jauh, Beliau sangat suka masuk masjid, lalu mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya, setelah itu menemui Fatimah rha., kemudian menemui istri-istrinya — maka pada suatu kali, Beliau datang dari perjalanan jauhnya, lalu datang ke rumah Fatimah.

Baca tulisan sebelumnya : Kisah Wahsyi bin Harb, Pembunuh Hamzah Masuk Islam

Beliau memulai kunjungan dengan rumah Fatimah sebelum rumah istri-istrinya. Beliau pun disambut oleh Fatimah rha. di dekat pintu rumah. Fatimah mencium wajah Beliau — dalam lafal yang lain: mulut Beliau — dan kedua mata Beliau, seraya menangis.

Lalu Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihatmu begitu pucat, dan pakaian telah usang.”

Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Wahai Fatimah! Jangan menangis, karena Allah mengutus ayahmu di atas agama (yang akan menyebar luas sedemikian rupa, sehingga) tidak tertinggal di atas muka bumi satu rumah pun, baik terbuat dari batu bata, bulu, ataupun rambut binatang (yakni di pemukiman tetap maupun di pedalaman badui), kecuali Allah memasukkan kemuliaan atau kehinaan di dalamnya dengan sebab agama ini, hingga sejauh tempat yang dapat dicapai oleh malam (yakni semua tempat).” [Demikian dalam Kitab Kanzul Ummal 1/77].

[Haitsami 8/263, berkata: Diriwayatkan oleh Thabrani, dalam sanadnya terdapat Yazid bin Sinan Abu Farwah, ia lebih jauh mendekat ke arah dha’if]

[Al-Hakim 3/155, berkata; Hadits ini sanadnya shahih, namun Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya beserta sanadnya dalam kitab shahih mereka].

[Dzahabi memberikan komentar dengan berkata; Yazid bin Sinan adalah Ar-Ruhawi, dinyatakan dha’if oleh Ahmad dan yang lainnya, sedangkan ‘Uqbah (yakni gurunya) tidak jelas dan tidak dikenali].

Baca tulisan berikutnya : Hadits Tamim ad-Dari Mengenai Tersebarnya Dakwah Islam

[‘Uqbah disebutkan di dalam Lisanul-Mizan dengan komentar; Bukhari berkata: Keshahihan haditsnya perlu dipertanyakan, sedangkan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Kitab Ats-Tsiqat].

Sumber : Kehidupan Para Sahabat (Jilid 1).

Kitab Asli : Hayatush Shahabah (Jilid 1).

Karya : Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi Rah. a.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *