Nabi SAW. Menolak Meninggalkan Dakwah Kepada Allah

THABRANI dan Bukhari di dalam kitab At-Tarikh meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Aqil bin Abu Thalib ra., ia berkata; Suatu ketika datanglah orang-orang Quraisy kepada Abu Thalib …. — lalu perawi melanjutkan haditsnya sebagaimana yang akan disebutkan pada bagian selanjutnya dalam bab yang akan datang.

Baca tulisan sebelumnya : Nabi saw. Dakwah Kalimat Tauhid Kepada Abu Thalib Menjelang Kematiannya (2)

Dalam riwayatnya disebutkan; Lalu Abu Thalib berkata kepadanya: “Hai keponakanku! Demi Allah, sepengetahuanku, dulu kamu begitu taat kepadaku. Dan kini, kaummu telah datang dan berkata bahwa kamu mendatangi mereka di dekat Ka’bah dan di dalam perkumpulan mereka. Kamu juga memperdengarkan kata-kata yang membuat mereka terganggu. Maka jika sekarang kamu berpikiran untuk menghentikan gangguanmu terhadap mereka tentu lebih baik.”

Maka Rasulullah saw. mengangkat pandangan matanya ke langit, lalu bersabda: “Demi Allah! Aku tidak sanggup meninggalkan apa yang telah ditugaskan kepadaku seperti halnya salah seorang diantara kalian juga tidak sanggup menyalakan sebuah obor dari matahari.”

Menurut riwayat Baihaqi bahwa Abu Thalib berkata kepada Rasulullah saw.: “Hai keponakanku! Sesungguhnya kaummu telah datang kepadaku dan berkata ini dan itu. Kasihanilah diriku dan juga dirimu sendiri, dan jangan membawaku kepada perkara yang tidak sanggup dipikul olehku dan juga olehmu. Maka berhentilah mengucapkan perkataan yang tidak disukai oleh kaummu.”

Rasulullah saw. pun merasa bahwa pikiran pamannya mengenai diri beliau sudah berubah, ia akan menelantarkannya, menyerahkannya kepada orang-orang Quraisy, dan tidak sanggup membelanya lagi.

Baca tulisan selanjutnya : Nabi SAW. Menolak Meninggalkan Dakwah Kepada Allah (2)

Maka Rasulullah saw. bersabda: “Wahai paman! Seandainya engkau letakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan urusan (dakwah) ini hingga Allah memenangkan (agama-Nya) atau aku hancur di dalam memperjuangkannya.”

Kemudian air mata Rasulullah saw. bercucuran dan menangis, — lalu perawi melanjutkan haditsnya sebagaimana akan disebutkan pada bagian selanjutnya.

Sumber : Kehidupan Para Sahabat (Jilid 1).

Kitab Asli : Hayatush Shahabah (Jilid 1).

Karya : Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi Rah. a.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *