Nabi SAW. Menolak Meninggalkan Dakwah Kepada Allah (4)

ABU Nu’aim meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Dala’ilun-Nubuwwah (hal. 76) dari Ibnu Umar ra. bahwa satu kali orang-orang Quraisy berkumpul untuk membicarakan tentang Rasulullah saw. sedangkan ke itu ketika itu Rasulullah saw. sedang duduk di dalam masjid (yakni: Masjidil-Haram).

Baca tulisan sebelumnya : Nabi SAW. Menolak Meninggalkan Dakwah Kepada Allah (3)

Lalu ‘Utbah bin Rabi’ah berkata kepada mereka, “Biarkanlah aku menghampirinya untuk berbicara kepadanya, karena mungkin aku lebih nyaman baginya dari pada kalian.” Maka beranjaklah ‘Utbah hingga ia duduk di hadapan Rasulullah saw.

Lalu ‘Utbah berkata: “Hai keponakanku! Aku menganggapmu sebagai orang yang paling mulia nasabnya diantara kita dan lebih utama kedudukannya. Namun engkau telah melakukan sesuatu terhadap kaummu yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun terhadap kaumnya. Jika engkau ingin mencari harta dengan perkataan (agama) itu, maka biarlah kaummu yang akan mengumpulkannya untukmu sehingga engkau akan menjadi orang yang paling banyak hartanya diantara kita.

Jika dulu engkau hendak mencari kehormatan maka kami akan memberikan kehormatan kepadamu sehingga tidak ada seorangpun dari kaummu yang lebih terhormat daripada engkau, dan kami tidak akan memutuskan sendiri suatu perkara tanpa keputusanmu.

Jika hal ini adalah karena gangguan jin terhadapmu, lalu engkau tidak bisa menghindar darinya, maka kami akan mempergunakan harta simpanan kami sampai kami tidak sanggup lagi mengusahakan penyembuhan untukmu.

Dan jika engkau menginginkan kerajaan, kami akan menjadikanmu sebagai raja kami.”

Lalu Rasulullah saw. bertanya: “Sudah selesai bicaramu, hai Abul-Walid.”

“Sudah,” sahut ‘Utbah.

Maka Rasulullah saw. membacakan Surat Hamim Sajdah (Fushshilat) kepadanya. Ketika membaca ayat Sajdah, Rasulullah saw. bersujud. Sedangkan ‘Utbah meletakkan tangannya di belakang punggungnya, hingga beliau selesai membacanya. Kemudian ‘Utbah beranjak pergi, sedangkan ia tidak mengetahui apa yang akan disampaikan kepada kaumnya.

Ketika melihat ‘Utbah datang, mereka berkata: “Sungguh ‘Utbah telah kembali kepada kalian dengan raut wajah yang berbeda dari raut wajah ketika pergi.”

‘Utbah pun duduk di hadapan mereka. Lalu berkata: “Wahai sekalian orang-orang Quraisy! Aku telah berbicara kepadanya seperti yang kalian perintahkan kepadaku. Setelah aku selesai berbicara, ia mengucapkan kepadaku kata-kata yang demi Allah, tidak pernah terdengar oleh kedua telingaku kata-kata seperti itu sama sekali. Aku pun tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya.

Wahai sekalian orang-orang Quraisy! Turuti lah aku hari ini saja dan selanjutnya kalian boleh menentangku. Tinggalkan saja orang itu dan menyingkirlah darinya. Demi Allah! Ia tidak akan meninggalkan agama yang ia anut. Biarkan saja ia yang menghadapi orang-orang Arab selain kita. Jika ia menang terhadap mereka, maka kehormatannya merupakan kehormatan kalian juga, dan kemuliaannya merupakan kemuliaan kalian juga. Namun jika mereka menang terhadapnya, maka masalah kalian telah diselesaikan oleh orang lain.”

Mereka berkata: “Kamu telah berpindah agama, hai Abul-Walid!”

Demikian ini disebutkan pula oleh Ibnu Ishaq secara panjang lebar, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Al-Bidayah (3/36).

Baca tulisan berikutnya : Keteguhan Hati Rasulullah SAW. Dakwah Dijalan Allah

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Baihaqi dari hadits riwayat Umar secara ringkas. [Ibnu Katsir berkata dalam Kitab Al-Bidayah (3/64): Ini adalah hadits yang sangat gharib dilihat dari rangkaian sanad ini].

Sumber : Kehidupan Para Sahabat (Jilid 1).

Kitab Asli : Hayatush Shahabah (Jilid 1).

Karya : Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi Rah. a.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *