Nabi saw. Dakwah Kalimat Tauhid Kepada Abu Thalib Menjelang Kematiannya (2)

MENURUT riwayat Bukhari dari Ibnul-Musayyab dari ayahnya disebutkan bahwa menjelang kematian Abu Thalib, Nabi saw. datang menemuinya, sedangkan ketika itu ada Abu Jahal bersamanya. Lalu Nabi saw. berkata: “Wahai paman! ucapkanlah; Laa ilaha illallah, sebuah kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah.”

Baca tulisan sebelumnya : Nabi saw. Dakwah Kalimat Tauhid Kepada Abu Thalib Menjelang Kematiannya

Lalu Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata: “Wahai Abu Thalib! Apakah Kamu tidak suka dengan agama Abdul-Muthalib?”

Mereka berdua terus berbicara kepadanya sehingga kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Abu Thalib adalah, “Aku mengikuti agama Abdul-Muthalib.”

Maka Nabi saw. bersabda: “Sungguh, aku akan memohonkan ampunan untukmu selagi tidak dilarang.”

Lalu turunlah ayat: “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah : 113).

Dan turunlah ayat: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashas : 56). Diriwayatkan pula oleh Muslim.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula beserta sanadnya dari jalur sanad yang lain dari Musayyab dengan lafal yang sebagian besarnya sama. Dalam riwayat tersebut ia berkata; Maka Nabi saw. menawarkan kalimat itu kepada Abu Thalib. Sedangkan Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah mengulang-ulang perkataan mereka, sehingga kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Abu Thalib adalah: “Aku mengikuti agama Abdul-Muthalib.” Ia pun menolak untuk memgucapkan Laa ilaha illallah.

Maka Nabi saw. bersabda: “Sungguh aku akan memohonkan ampunan untukmu selagi tidak dilarang.” Maka setelah itu, Allah menurunkan wahyu-Nya. Lalu perawi menyebutkan dua ayat diatas.

Demikian ini pula Imam Ahmad, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ia berkata; Ketika Abu Thalib menghadapi saat kematiannya, Nabi saw. datang kepadanya, lalu berkata: “Wahai pamanku! Ucapkanlah; Laa ilaha illallah, niscaya dengan kalimat itu kelak aku akan bersaksi untukmu pada hari kiamat.”

Lalu Abu Thalib berkata: “Seandainya bukan karena rasa khawatir bahwa orang-orang Quraisy akan mencelaku dengan berkata, ‘Abu Thalib mengucapkan kalimat itu hanyalah karena takut mati,’ niscaya aku telah menuruti permintaanmu untuk membuatmu senang. Dan aku tidak mau mengucapkannya kecuali sekedar untuk membuatmu senang.”

Baca tulisan berikutnya : Nabi SAW. Menolak Meninggalkan Dakwah Kepada Allah

Lalu Allah swt. menurunkan ayat : “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashas : 56)

[Demikian dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah (3/124)]

Sumber : Kehidupan Para Sahabat (Jilid 1).

Kitab Asli : Hayatush Shahabah (Jilid 1).

Karya : Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi Rah. a.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *