Muhammad SAW. Sang Yatim (4)

NABI SAW. telah menjaga lisannya, mengalahkan setannya, dan mengontrol amarahnya. Beliau tidak pernah meminum khamr, tidak pernah melakukan kemungkaran, tidak pernah berbuat curang, tidak pernah menyembah berhala, dan tidak pernah menzalimi orang.

Baca tulisan sebelumnya : Muhammad SAW. Sang Yatim (3)

Sebab, Beliau tumbuh dan dewasa dalam penjagaan, perhatian, serta pengamanan Allah SWT. Allah SWT. senantiasa membimbingnya, dan menjauhkannya dari kemungkaran jahiliyah. Sehingga, Beliau menjadi sosok yang paling berwibawa di antara kaumnya, paling amanah, paling jujur, paling berakhlak, paling berbakti, serta paling suci raga dan jiwanya.

Semua sifat itu Beliau miliki sebelum diutus menjadi Nabi. Lantas, bagaimana kondisi Beliau setelah diutus menjadi Nabi dan dikenalkan dengan agama yang Hanif?

Sungguh, Beliau bagaikan cahaya yang menyinari kegelapan jahiliyah, serta bagaikan bulan yang menerangi gulitanya berhala.

Nabi SAW. tumbuh dewasa dalam kondisi suci dan terberkati, agar menjadi teladan bagi setiap pemuda yang dikepung oleh syubhat dan syahwat. Sehingga terlepas dari semua itu dalam kondisi berakhlak mulia dan berkarakter santun, meskipun rayuan dan godaan setan semakin banyak.

Bukanlah hal yang mengherankan, tatkala seorang baik tumbuh di antara orang-orang baik. Seorang mulia, tumbuh diantara orang-orang mulia, atau seorang pelajar tumbuh diantara orang-orang alim.

Namun hal yang mengherankan, ketika seorang pemuda suci tumbuh diantara masyarakat jahiliyah yang dipenuhi dengan kesyirikan dan khurafat. Masyarakat yang menyembah patung, bersujud di hadapan berhala, membolehkan keharaman, melakukan kekejian, serta berbuat kemungkaran dan kejahatan.

Muhammad muda justru tumbuh berbeda diantara mereka, Beliau tidak berwatak seperti mereka, dan tidak berbuat seperti mereka. Beliau muncul menjadi sosok yang paling bijak, paling mulia, dan paling bertakwa. Sebab, Allah-lah yang telah mendidiknya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat: “Rabbku telah mendidikku dengan baik.” Meskipun sanadnya tidak shahih tetapi maknanya baik.

Tidak ada catatan bahwa Nabi SAW. pernah berbuat keburukan ataupun kesalahan. Beliau tidak pernah berbohong, dan tidak pernah berkhianat. Diri Beliau semuanya bersih, murni, jernih, dan setia.

Beliau bijak yang akhlaknya paling mulia, Beliau agung yang sifatnya paling indah. Hal tersebut membuktikan bahwa Allah SWT. memang telah mempersiapkannya sejak kecil untuk mengemban tanggung jawab risala,  dan amanah kenabian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *