Muhammad SAW. Sang Yatim (3)

DIANTARA rahasia di balik ke yatiman Nabi SAW. adalah menampik tuduhan-tuduhan salah bahwa dengan mengaku sebagai Nabi maka Beliau dapat memperkuat keluarganya serta mengangkat kerabatnya.

Baca tulisan sebelumnya : Muhammad SAW. Sang Yatim (2)

Dimanakah keluarganya? Dimanakah kerabatnya? Bukankah Beliau tumbuh tanpa peran ayah dan ibu? Selain itu agar tidak dikatakan bahwa kenabian dan dakwah Beliau dapat tersebar karena bantuan keluarga serta kerabatnya. Padahal kaum kerabatnya sendiri yang pertama kali menolak dan memeranginya.

Nabi SAW. tumbuh dalam kondisi yatim dan merasakan lapar, agar menjadi teladan bagi orang-orang yang kelaparan. Beliau merasakan kekurangan materi, agar menjadi contoh bagi orang-orang yang kekurangan materi. Beliau merasakan sulit, agar menjadi inspirator bagi orang-orang yang kesulitan. Beliau merasakan fakir, agar menjadi panutan bagi orang-orang yang fakir.

Beliau tumbuh dalam kondisi yatim, agar bisa merasakannya sendiri sehingga mengasihi anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang kesulitan, orang-orang fakir, orang-orang yang kekurangan dan orang-orang yang tertindas. Sebab, Beliau telah merasakan apa yang mereka rasakan, serta telah mengalami, apa yang mereka alami.

Meskipun Nabi SAW. tumbuh dalam kondisi yatim, tanpa asuhan ayah dan kelembutan Ibu, tetapi Allah SWT. telah memenuhi hatinya dengan kelembutan, serta ruhnya dengan kasih sayang dan keramahan. Kelembutan, kasih sayang, dan keramahan tersebut pun melimpah kepada umatnya.

Nabi SAW. tumbuh di lingkungan yang dipenuhi dengan khurafat, kejahilan, akhlak buruk, kekejian, kemungkaran, menyembah berhala dan patung, minum khamr, menumpahkan darah mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan fanatisme kabilah. Tetapi, Allah SWT. telah menjaganya dari sejak lahir. Sehingga Beliau tidak mengikuti kesesatan yang dilakukan oleh anak-anak kabilahnya saat itu. Allah SWT. juga telah menjaganya dari keburukan yang dilakukan oleh anak-anak kecil sejak Beliau masih kecil.

Pertolongan Allah SWT. telah menaungi Nabi SAW. sejak lahir, masa menyusu, masa muda belia, sampai dia memuliakannya dengan kenabian. Tidak ada catatan bahwa Beliau pernah salah, tergelincir, atau ragu-ragu. Keagungan ada pada pakaiannya, dan kemuliaan ada pada pundaknya, masa mudanya dipenuhi dengan perjuangan, keperkasaan, kedermawanan, dan keluhuran budi.

Pada diri Nabi SAW. terkumpul akhlak mulia, kesantunan, watak yang luhur, dan etika yang agung. Tatkala muda berpakaian suci, aman dari pengaruh luar, bersih lahir dan batin, terhormat, berakhlak mulia, menyenangkan dan jujur.

Apabila para ayah saja berdedikasi dalam mendidik anak-anak mereka agar tumbuh sesuai harapan, lantas bagaimana dengan anak-anak yang dididik dan diasuh oleh Allah SWT.? Sebagian orang bijak berkata, seorang anak kecil tidak merasa takut jika memiliki ayah, lantas bagaimana dengan anak yang diasuh oleh Allah SWT.

Muhammad kecil adalah sosok yang dibanggakan oleh anak-anak seusianya. Muhammad dewasa adalah sosok yang diidamkan oleh orang-orang seusianya. Muhammad pemberani adalah sosok yang diteladani oleh para pemberani lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *