Muhammad SAW. Sang Yatim (2)

DALAM perjalanan hidupnya, masa Rasulullah sudah menghadapi berbagai peristiwa yang selayaknya dihadapi oleh orang dewasa. Melalui berbagai peristiwa tersebut tampaklah kepribadiannya yang baik, kaumnya pun menyebutnya dengan sosok yang jujur dan amanah. Beliau tidak menerima julukan itu secara cuma-cuma, tapi karena Beliau memang berhak memperolehnya.

Itu disebabkan kepribadiannya yang baik, perilakunya yang santun, dan rekam jejaknya yang bagus. Selain itu juga karena usahanya dalam menegakkan prinsip-prinsip, serta akhlak yang mulia.

Baca tulisan sebelumnya : Muhammad SAW. Sang Yatim

Tatkala Khadijah mendengar tentang akhlak Rasulullah SAW. yang amanah dan jujur, dia pun mengajukan diri untuk menjadi istrinya. Faktor yang mendorong Khadijah untuk melakukan hal itu sudah tentu bukanlah harta, sebab Khadijah  adalah pedagang kaya raya, bukan pula faktor jabatan, karena Beliau bukan raja, menteri, ataupun pangeran.

Lantas apa yang menyebabkan Khadijah ingin menjadi istri Beliau? Sungguh itu disebabkan kejujuran dan sifat amanah yang Beliau miliki. Selain itu, juga faktor yang menghiasi dadanya yaitu keperkasaan dan kegagahan.

Rasulullah SAW. dan Khadijah terjalin dalam ikatan pernikahan yang langgeng. Khadijah mendapati sifat-sifat setia, jujur, terhormat dan suci pada diri Rasulullah SAW. Hal itu Khadijah persaksikan, saat Rasulullah SAW. merasa ketakutan setelah wahyu turun, seraya berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau adalah sosok yang senantiasa menjaga silaturahim, menolong anak yatim, memuliakan tamu, dan membantu orang susah.” (Muttafaq ‘alaih).

Rasulullah SAW. telah merasakan yatim beberapa kali, yatim karena ayahnya wafat saat Beliau dalam kandungan ibunya, inilah level yatim yang paling berat. Kemudian, yatim karena ibunya wafat di depan matanya saat Beliau berumur 6 tahun. Kemudian rasa sedih, karena kakeknya Abdul Muthalib yang telah mengasuh dan melindunginya wafat. Kemudian rasa sedih, karena pamannya Abu Thalib yang telah menolong dan menaunginya wafat. Kemudian rasa sedih karena istri tercintanya Khadijah binti Khuwailid yang telah menjadi penenang dan penghibur hatinya wafat.

Beliau merasakan semua kesedihan itu, sebab Allah SWT. berkehendak menyiapkannya untuk memimpin dunia, melatihnya untuk mengatur manusia, dan mencalonkannya untuk membimbing Bani Adam. Allah SWT. berkehendak menjadikannya sebagai penutup para Nabi, teladan para wali, imam para rasul, serta hujjahnya kepada umat manusia.

Sejak awal, Allah SWT. telah menjaga Nabi SAW., Dia tidak menyerahkannya kepada manusia sedikitpun, Dia-lah yang menjaganya, melindunginya, membimbingnya, dan memenuhi kebutuhannya, tidak sedikitpun Dia serahkan kepada manusia untuk mengambil alih semua itu. Baginya, ketika Allah SWT. tidak memberi, justru itu adalah suatu pemberian, dan ketika Dia menguji dengan kesulitan, justru itu adalah suatu kelapangan.

Allah SWT. berfirman: “Bukankah Dia telah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.” (QS. Adh-Dhuha : 6). Perlindungan dari Allah SWT. bukan sekedar tempat keluarga dan kerabat, namun perlindungan khusus yang bersifat Rabbani

Allah SWT. berfirman: “Dan Dia telah mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (QS. Adh-Dhuha : 7). Allah SWT. memberikan petunjuk kepada Nabi SAW. berupa cahaya kenabian, menyelamatkannya dari salah jalan, membimbingnya menuju jalan yang lurus, serta mengajarinya hal baru tentang iman dan Al-Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *