Muhammad SAW. Sang Nabi (5)

Keikhlasan Dakwah Nabi Muhammad SAW.

RASULULLAH SAW. mengajak untuk mengesakan Allah SWT. Sejak awal Beliau telah menekankan bahwa dirinya tidak mengharap kekuasaan, kehormatan, ataupun harta. Beliau hanya ingin memberikan petunjuk kepada umat manusia, Beliau memegang prinsip tersebut sehingga ajal menjemput. Tidak ada Dirham, Dinar, Istana, maupun harta karun yang Beliau tinggalkan, bahkan ketika Beliau wafat, baju besinya masih tergadaikan pada seorang Yahudi senilai 30 sha’ gandum. Beliau bersabda: “Kami tidak mewariskan, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.” (Muttafaq ‘alaih).

Baca tulisan sebelumnya : Muhammad SAW. Sang Nabi (4)

Ucapan dan perbuatan tersebut hanya berasal dari seorang nabi yang semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT. dan pahala akhirat. Berbeda halnya dengan orang yang berhasrat memperoleh kekuasaan, kepemimpinan, jabatan, reputasi, harta, atau posisi tertinggi di dunia, sesungguhnya hasratnya tersebut akan diketahui oleh manusia sejak awal. Sementara Nabi SAW. telah memikul beban, susah, pedih, dan sulit, demi menyampaikan ajaran-Nya kepada manusia tanpa imbalan materi ataupun upah duniawi.

Allah SWT. berfirman: “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku, dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (QS. Shad : 86).

Beliau bersabar, seiring dengan bergulirnya waktu, hingga ajal menjemputnya. Beliau tidak pernah merasa malas, lemas, ataupun ragu. Beliau terus maju dan tetap tegar sampai tugas dakwahnya dari Allah SWT. tersampaikan. Hal itu merupakan bukti kejujurannya, sekaligus bukti bahwa Beliau benar-benar utusan Allah SWT., sebab orang berhasrat materi hanya memiliki kesabaran yang terbatas, jika hasrat duniawinya tidak tercapai niscaya dia akan lemas, surut, dan berhenti.

Dalam sejumlah Hadits Shahih disebutkan bahwa Raja Romawi, Heraklius pernah bertanya kepada Abu Sufyan tentang sosok Nabi SAW.: “Apakah di antara sesepuhnya ada yang menjadi raja?”

Abu Sufyan menjawab: “Tidak ada.”

Heraklius lalu berkata: “Seandainya, diantara sesepuhnya ada yang menjadi raja, aku pasti akan berkata, dia adalah orang yang menginginkan kekuasaan sesepuhnya.” (Muttafaq ‘alaih).

Dengan jawaban tersebut Heraklius menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah utusan Allah SWT. sebab Beliau tidak berhasrat untuk mengembalikan kekuasaan yang telah lenyap atau kerajaan sesepuhnya yang telah beralih tangan, tidak pula untuk mengumpulkan harta benda.

Umumnya, modus orang-orang yang mengaku bahwa dirinya memiliki kelebihan, atau ingin melakukan pembaruan ujung-ujungnya adalah demi memperoleh kekuasaan atau harta. Nabi SAW. terbebas dari hal demikian, karena Beliau adalah utusan Allah SWT. kesimpulan di atas bukan berasal dari kalangan pengikut Nabi SAW., tetapi dari kalangan yang kala itu memusuhinya yaitu Heraklius dan Abu Sufyan sebelum memeluk Islam.

Kesaksian Para Sahabat Tentang Nabi Muhammad SAW.

Orang-orang yang bersahabat dengan Nabi SAW. lebih dari 120 ribu, mereka menemani Beliau di mana saja, di kota, di luar kota, malam, siang, senang, sedih, marah, lapar, kenyang sehat, sakit, serta dalam kondisi damai maupun perang. Tidak ada yang didapati pada dirinya selain keindahan dalam berucap, dan berlaku, serta kebaikan dalam berbuat dan berakhlak.

Beliau merupakan penghulu dalam akhlak, mulia, kejujuran, amanah, tawadhu, zuhud, keadilan, kedermawanan, keberanian, memaafkan, kesetiaan, dan sifat-sifat lainnya yang mereka sepakati dan nukil darinya. Adakah orang-orang yang menyamai Nabi SAW., dalam hal akhlak dan karakter baik yang muncul sebelum maupun setelahnya? Atau, adakah orang yang mampu menyainginya? Sungguh Beliau adalah nomor satu dalam setiap kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *