Muhammad SAW. Sang Nabi (13)

Kehidupan Nabi Muhammad SAW. Adalah Teladan

Sepanjang sejarah, tidak diketahui seorangpun, baik pemimpin, penyair, orang bijak, sastrawan, orang kaya, maupun pedagang yang mengajarkan pola dan metode hidup sebaik yang diajarkan oleh Nabi SAW.

Baca tulisan sebelumnya : Muhammad SAW. Sang Nabi (12)

Beliau telah mengajarkan karakter yang baik, watak yang indah, akhlak yang mulia dan adab yang bagus. Beliau mengajarkan semua itu dengan sangat detail, sehingga dapat mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik, serta lebih mendekatkannya kepada Sang Khalik.

Kehidupan Nabi SAW. berbeda dengan kehidupan orang-orang, penuh dengan kesucian, kemuliaan, amanah, dan kebaikan. Jauh dari kekerasan, kemungkaran, kekejian, kejahatan, akhlak buruk, dan perbuatan buruk. Beliau bagaikan bulan purnama yang menerangi gelapnya malam.

Siapakah yang mengajari beliau metode hidup seperti itu, padahal beliau tidak pernah belajar di sekolah, universitas, fakultas, ataupun akademi, tidak pula belajar kepada ustadz, syekh, murabi, filsuf, atau orang bijak. Namun, beliau belajar melalui wahyu. Pola dan metode tersebut hanya dimiliki oleh satu orang yaitu Muhammad bin Abdullah, ini merupakan bukti yang menunjukkan bahwa kenabiannya benar. Kebenaran tentang kenabian beliau ini didukung argumen dan dalil yang kuat.

Syariat Nabi Muhammad SAW. yang membahas wudhu, bersuci, mandi, dan tayamum, jumlahnya sangat banyak, demikian juga syariat nabi yang membahas pakaian, wewangian, makan, dan minum. Selain itu ada lagi syariat nabi yang membahas tentang etika berjalan, duduk, berbicara, masuk dan keluar rumah, serta adat di jalan. Jumlahnya lebih dari 100 hadits, ajaibnya, semua itu dapat diterapkan dengan tertib, rapi dan tidak saling bertentangan, statusnya pun shahih.

Para sahabat menukilnya dari beliau dan mempraktekkannya dalam kehidupan mereka, dengan demikian kehidupan Nabi SAW. secara tidak langsung menjadi undang-undang akhlak serta universitas pendidikan dan adab.

Mengharamkan Zina, Riba, Khamr dan Kekejian

Pada masa Nabi SAW. tidak seorang pun mengakui bahwa khamr, zina dan hal-hal aneh (syudzudz) memiliki efek samping terhadap kesehatan atau menyebabkan penyakit yang dapat merusak tubuh. Bangsa Arab pada zaman itu justru merasa bangga bila dapat melakukan kebiasaan negatif tersebut.

Seandainya Nabi Muhammad SAW. bukanlah utusan Allah SWT. tentu beliau tidak akan melarang masyarakatnya mengikuti hawa nafsu mereka, seperti yang dilakukan oleh para pemuja dunia yang menginginkan jabatan atau harta. Mereka akan menyamai masyarakat serta mencari persetujuan mereka dalam mengumbar syahwat dan keharaman, agar mendapat simpati.

Akan tetapi, Nabi SAW. bersikap tegas dan tulus dalam mengemban tugas dari Allah SWT. beliau pantang ditentang dan enggan memberikan keringanan bila berkaitan dengan kekejian dan kemungkaran. Beliau tidak peduli tanggapan orang-orang, sebab sudah pasti ada yang senang dan ada yang benci, ada yang menerima dan ada juga yang menolak.

Ini merupakan bukti yang menunjukkan bahwa kenabiannya benar, beliau tidak berbicara dengan hawa nafsu, serta tidak tunduk pada keinginan masyarakat. Beliau tidak tamak kehormatan, kekuasaan dan jabatan, sebab beliau hanya mengharapkan ridho Allah SWT. semata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *