Muhammad SAW. Sang Nabi (10)

Nabi Muhammad SAW. Buta Aksara atau Ummi

SAYA berharap anda berkenan merenung sejenak, bayangkan seorang anak kecil tumbuh di sebuah kampung di Jazirah Arab! Rumahnya terbuat dari batu, Beliau tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah, hidup yatim, dan kekurangan. Beliau tidak pernah melihat ulama, guru, pendidik, ilmuwan, syekh, ustadz, doktor ataupun profesor. Tidak pula papan tulis ataupun kapur tulis. Beliau tidak memiliki pena dan kertas, tidak pernah masuk sekolah universitas, akademi ataupun lembaga pendidikan lainnya. Beliau tidak pernah menulis satu huruf pun dan tidak pernah membaca satu halaman pun. Di usianya yang ke-40 tahun Beliau masih buta baca dan tulis atau Ummi.

Baca tulisan sebelumnya : Muhammad SAW. Sang Nabi (9)

Tiba-tiba pada suatu hari Beliau menyeru di atas Bukit Shafa: “Katakanlah! Tidak ada Tuhan selain Allah.” Beliau menghafal wahyu dan menjadi pengajar teragung, murabi terbesar, pemimpin termulia, serta pemberi keputusan teradil.

Beliau membaca Al-Qur’an di atas mimbar dan di Mihrab, beliau memberikan fatwa dalam segala aspek kehidupan masyarakat, akidah, Ibadah, akhlak, adab, tingkah laku, dunia dan akhirat, politik, harta, HAM, perempuan, ibu dan anak, hadd serta muamalah. Beliau juga berbicara tentang Surga Neraka, falaq, gugusan bintang, jin dan manusia.

Beliau membacakan Al-Qur’an sembari menantang secara terang-terangan, siapa yang dapat membuat sepertinya atau 10 surah sepertinya atau cukup satu surah saja? Akan tetapi tidak ada yang mampu melakukannya. Padahal mereka adalah ahli balaghah, fasih, orator ulung. Mereka menyatakan tidak sanggup dan kalah di hadapan tantangan tersebut. Nabi SAW. pun tetap menjadi pemenang yang unggul.

Allah SWT. menyebutkan bahwa Nabi SAW. adalah ummi dalam Firman-Nya: “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatnya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah : 2).

Keunikan Nabi SAW. merupakan mukjizat terbesar yang menunjukkan bahwa Beliau jujur dalam mengklaim diri sebagai Nabi dan Rasul utusan Allah SWT. Sebab, seandainya Beliau bisa menulis dan membaca, niscaya Beliau akan dicurigai. Kaum musyrik pernah menuduh bahwa Beliau telah membaca kitab orang-orang terdahulu.

Firman Allah: “Dan mereka berkata, (Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (QS. Al-Furqon : 5).

Allah SWT. menjauhkan syubhat dan tuduhan tersebut dari diri Rasulullah SAW. Dia menjadikannya nabi yang tidak bisa baca dan tulis. Allah SWT. berfirman: “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut : 48-49)

Nabi SAW. tidak pernah membaca dan menulis di kertas. Pada peristiwa Perdamaian Hudaibiyah, Beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib agar menghapus kata Rasulullah dari atas kertas, karena permintaan Suhail bin Amr, seorang delegasi kaum musyrik. Ali menolak permintaan Suhail, lantas Beliau mengambil kertas tersebut dan menghapus kalimat Rasulullah setelah diberitahu posisinya. Beliau tidak bisa membaca dan menuliskan kalimat tersebut, tetapi hanya ditunjukkan posisinya, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *