Muhammad SAW. Sang Inspirator (6)

SAAT menulis buku ini umur saya 60 tahun (penulis buku ini). Sejak dini saya telah menuliskan nama Nabi SAW. di hati saya serta melafalkan sabda-sabdanya dengan lisan saya. Seiring bergulirnya hari, saya pun kian menemukan harta karun yang sangat berharga yang belum saya temukan sebelumnya. Saya menanyakan rasa itu kepada para ulama, ternyata mereka merasakan hal yang sama.

Baca tulisan sebelumnya : Muhammad SAW. Sang Inspirator (5)

Salah seorang diantara mereka berujar kepada saya: “Seandainya umur anda telah mencapai 90 tahun, niscaya anda akan tetap menemukan ilmu dan pemahaman baru tentang Nabi SAW. yang belum pernah anda temukan sebelumnya.

Bahkan dapat saya katakan, seandainya saya dan anda berumur seperti Nabi Nuh yakni 1000 tahun (kurang 50 tahun) dan sepanjang hidup terus mengulangi hadits-hadits Nabi SAW. mempelajari sunah-sunahnya dan membaca sejarah hidupnya, niscaya kita akan tetap menemukan pemahaman baru yang berkah, ilmu baru yang bermanfaat, warisan baru yang agung, dan peninggalan baru yang memukau, semua itu belum pernah kita temukan sebelumnya.

Bagaimana bisa kita melupakan sang inspirator agung itu, padahal Beliau bersama kita. Bagaimana bisa Beliau menghilang, padahal ada di hadapan kita.

Bagaimana kita kehilangan Beliau, padahal ada dalam surat kita, Beliau bersabda: “Shalatlah! Seperti kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari).

Begitu pula saat kita berhaji, seolah Beliau membimbing jemaah di manasik dan masyair, sembari bersabda: “Hendaklah kalian menuju ke manasik kalian.” (HR. Muslim).

Ketika kita menjalani hidup, beraktivitas, berdagang, ataupun bercocok tanam, seolah Beliau menginspirasi dan menyemangati kita melalui sabdanya yang penuh berkah: “Siapa yang menolak sunnahku, berarti dia bukan bagian dari golonganku.” (Muttafaq ‘alaih).

Bagaimana bisa sang inspirator tercinta itu menghilang dari jiwa kita, padahal saat berwudhu kita mengingatnya dan mengikuti petunjuknya. Saat bersiwak, Beliau ada bersama kita berupa haditsnya. Saat mendekati makanan, kita mengingat sunnahnya dalam makan dan minum. Saat hendak tidur, Beliau ada bersama kita berupa pengajaran dan doanya.

Rasulullah SAW. adalah sosok pertama di dunia yang mampu membaca karakteristik orang yang menemuinya untuk meminta nasihat. Atas pertolongan dan Ilham dari Allah SWT. Beliau pun dapat mengetahui mauhibah orang tersebut, berikut apa yang maslahat baginya.

Tatkala seseorang memohon agar dipertemankan dengan Nabi SAW. di Surga, Beliau pun bersabda: “Bantulah aku dengan cara engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim).

Beliau bersabda kepada seorang lainnya: “Hendaklah lisanmu lembab karena berdzikir.” (HR. Tirmidzi).

Beliau bersabda kepada seorang lainnya: “Jangan marah.” Sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari).

Beliau bersabda kepada seorang lainnya: “Hendaklah engkau berpuasa, sesungguhnya tidak ada yang sepertinya.” (HR. Nasa’i).

Beliau bersabda kepada seorang lainnya: “Hendaklah engkau menjaga ini, sembari menunjuk lidahnya.” (HR. Tirmidzi).

Beliau bersabda kepada seorang lainnya: “Katakanlah, Allahummah dini wa saddidni.” (HR. Muslim).

Beliau bersabda kepada seorang lainnya: “Katakanlah, Allahummah alhimni rusydi wa a’idni min syarri nafsi.” (HR. Tirmidzi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *