Muhammad SAW. Sang Inspirator (4)

DALAM Sunan Tarmidzi, Abdullah bin Busr meriwayatkan tentang seorang tua yang diutus untuk menemui Nabi SAW. orang tua tersebut berkata: “Sesungguhnya syariat Islam sudah terasa berat bagiku. Beritahukan kepadaku sesuatu yang dapat kupegang erat.”

Baca tulisan sebelumnya : Muhammad SAW. Sang Inspirator (3)

Beliau bersabda: “Hendaklah lisanmu lembab karena berdzikir.”

Orang tua itu pun mengikuti nasehat inspiratif dari Rasulullah SAW. yang menjadi kenangan terindah baginya. Dia justru melupakan pesan-pesan yang dia dengar dari kabilah, keluarga dan kerabat, sebab nasehat Nabi SAW. bersumber dari wahyu. Dia mempraktekkan pesan Nabi SAW. dan menjadikannya sebagai metode hidup sepanjang sisa umurnya.

Amr bin Ash termasuk sahabat Nabi SAW. yang memeluk Islam belakangan. Dia menemui Nabi SAW. saat berada di hadapannya, Beliau bersabda: “Ulurkan tangan kananmu untuk membai’atku.”

Dia pun mengulurkan tangan kanannya, lalu menariknya kembali.

Beliau berkata: “Ada apa denganmu, wahai Amr?”

Dia menjawab: “Aku ingin mengajukan syarat.”

Beliau berkata: “Apa syaratmu?”

Dia menjawab: “Aku ingin memperoleh ampunan.”

Beliau berkata: “Tidaklah engkau tahu bahwa Islam menghapus apa yang telah lalu, begitu pula hijrah menghapuskan apa yang telah lalu?” (HR. Muslim).

Ucapan dan peristiwa itu selalu terngiang dalam memori Amr, bahkan saat sakaratul maut. Sebab, hal itu  berasal dari Nabi SAW. serta merupakan kabar gembira yang inspiratif dari Beliau untuk Amr pada pertemuan pertama setelah memeluk Islam. Adakah inspirasi dan motivasi yang lebih besar dari itu?

Diantara bentuk kekuatan inspirasi Nabi SAW. adalah para sahabat yang hidup bersamanya, mengetahui setiap detail karakteristik dan sifat-sifat hayatnya. Padahal belum tentu mereka ketahui pada diri Ayah yang merupakan asal mereka, ibu yang melahirkan mereka, anak yang mereka didik, ataupun istri yang hidup bersama mereka.

Bagi mereka hidup seolah dibatasi untuk mereka dan Nabi SAW. saja. Sebab, perhatian setiap individu diantara mereka terhadap kehidupan Nabi SAW. seperti shalat, puasa, pakaian, tidur, perkataan, senang, marah, serius, dan candanya merupakan jalan menuju ke Surga.

Adapun perhatiannya terhadap orang-orang di sekitar mereka, seperti ayah, ibu, putra putri, saudara, ataupun istri merupakan hal yang biasa dialami oleh semua manusia apapun agama bahasa dan warna kulit mereka.

Diantara bentuk kekuatan inspirasi Nabi SAW. terhadap para sahabatnya adalah mereka mendatangi maut, mendahului Beliau, dengan gagah berani dan senang hati.

Sebab, Beliau telah menanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengharap pahala Surga. Bagi mereka, dekat dengan Beliau dan mengambil berkah dari perkataan serta atsar Beliau, merupakan harapan tinggi dan kebahagiaan terbesar dalam hidup mereka.

Mereka memperhatikan setiap kata dan setiap waktu karena menjadikan Nabi SAW. sebagai Imam serta teladan hidup mereka. Kemenangan, kesuksesan, dan kebaikan tidaklah terealisasi tanpa mengikuti petunjuk Nabi SAW. serta bernaung di bawah cahaya kenabiannya.

Apabila kita yang hidup setelah 14 abad saja merasa rindu kepada Nabi SAW. dan ingin sekali melihatnya, bertemu dengannya, mendengar sabdanya, menghadiri majelisnya, sehingga tangis pun tak terbendung. Air mata menjadi saksinya, lantas bagaimana dengan orang-orang yang benar-benar hidup bersamanya, melihatnya, mencintainya, beriman kepadanya, bahagia bersahabat dengannya, dan senang berkesempatan menemaninya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *