Muhammad SAW. Sang Inspirator (3)

BILAL bin Rabah RA. memiliki suara yang menyentuh hati ketika adzan dia juga cakap dalam bernasyid. Rasulullah SAW. lantas membimbingnya untuk menjadi Muadzin serta menyampaikan kabar gembira kepadanya berupa istana di Surga.

Baca tulisan sebelumnya : Muhammad SAW. Sang Inspirator (2)

Seandainya anda ingin memberikan sambutan khusus yang menyenangkan Bilal niscaya anda tidak akan menemukan sambutan yang lebih baik dari sabda Rasulullah SAW.: “Aku mendengar suara kedua sandalmu di depanku di Surga.” (Muttafaq ‘alaih).

Kalimat, senyuman, bisikan, sentuhan, kejadian positif, hadiah, perbincangan khusus atau doa dari Rasulullah SAW. cukup bagi seorang sahabat untuk melupakan hayatnya, ingatannya, serta kisah hidupnya.

Ma’mar bin Abdullah dikenal dengan kisah besarnya yakni mencukur rambut Nabi SAW. saat berhaji setelah melempar jumrah di Mina. (HR. Ahmad). Ketika menyebutkan hadits ini, orang-orang pun menyambut dengan baik dan memuliakannya. Mereka memintanya untuk mengulang-ulang kisah tersebut, karena lucu dan bagusnya. Selain itu karena dalam peristiwa Nabi SAW.

Abu Dzar berujar: “Tidaklah aku bertemu Nabi SAW. melainkan Beliau pasti menjabat tanganku. Suatu hari Beliau mengutus seseorang untuk menemuiku, tapi aku sedang tidak di rumah. Saat tiba aku dikabari tentang kedatangan utusannya. Lantas aku pun mendatanginya yang sedang berada di atas kasurnya. Beliau lalu memelukku, pelukan itu terasa lebih nyaman.” (HR. Ahmad). Bagi Abu Dzar menempelnya badan Nabi SAW. dengan badannya merupakan kebahagiaan yang besar dan hadiah yang sangat berkesan dari Beliau.

Muadz Bin Jabal meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. pernah memegang tangannya, seraya bersabda: “Wahai Muadz, demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Demi Allah aku sungguh mencintaimu. Aku berpesan kepadamu, wahai Muadz, tiap kali usai shalat, jangan pernah engkau meninggalkan doa; Allahumma a’inni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Dalam Shahih Bukhari, Abdullah bin Umar RA. meriwayatkan, Rasulullah SAW. pernah memegang bahuku, seraya bersabda: “Jadilah engkau di dunia bagaikan orang asing atau orang yang hanya melintas.”

Maksud “memegang bahu” di sini tidaklah negatif. Itu merupakan bentuk pemuliaan dan kasih sayang dari Rasulullah SAW. kepada Ibnu Umar. Dia pun kerap menceritakan peristiwa itu dengan senang hati sampai ajal menjemputnya.

Amr bin Taghlib RA., seorang sahabat Nabi SAW., diketahui hanya meriwayatkan satu hadits yang terdapat di Shahih Bukhari. Hadits yang menyebutkan bahwa Nabi SAW. memberi satu kaum dan tidak memberi kaum lainnya, kaum yang tidak diberi mempermasalahkan hal itu.

Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku memberi satu kaum, karena khawatir iman mereka yang lemah dan kecemasan mereka. Aku tidak memberi kaum lainnya, karena Allah telah menjadikan hati mereka baik dan merasa kaya seperti Amr bin Taghlib.”

Rasulullah SAW. mengatakan hal itu kepada Amr di hadapan khalayak umum di masjid. Amr pun melupakan dunia dan seisinya, serta orang-orang di sekitarnya. Dia berkomentar: “Aku tidak senang bila ucapan Rasulullah SAW. diganti dengan harta semahal apapun.” Betapa agung ucapan itu! Kejadian itu tidak dapat terlupakan oleh Amr sampai ajal menjemputnya.

Rasulullah SAW. pernah bersabda tentang Hasan bin Ali RA.: “Sesungguhnya cucuku ini adalah seorang tuan. Melalui perantaranya, Allah akan mendamaikan dua golongan besar di kalangan umat muslim.” (HR. Bukhari). Ucapan ini menjadi pelita bagi Hasan sampai dia berhasil merealisasikannya tatkala mencegah pertumpahan darah antara pasukannya dengan pasukan Mu’awiyah RA. Dengan demikian, terlaksanalah sabda inspiratif Beliau kepada cucunya.

Jarir bin Abdullah berkata: “Tidaklah Rasulullah SAW. melihatku, melainkan tersenyum di hadapanku.” (Muttafaq ‘alaih).

Betapa senyuman Nabi SAW. sangat berharga bagi Jarir. Betapa dia sangat bersyukur dan bersuka cita karena menerima senyuman mempesona yang merasuk ke lubuk hati paling dalam. Jarir meriwayatkannya dengan riang gembira, karena Nabi SAW. telah memberikan senyuman khusus kepadanya. Senyuman yang telah menawan jiwanya saat itu juga bahkan hingga terpatri di dalam hatinya.

Bagi Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami RA. hadits sekaligus peristiwa yang paling mulia sepanjang hidupnya adalah ketika Rasulullah SAW bersabda kepadanya pada suatu malam: “Apakah engkau memiliki hajat?”

Dia menjawab: “Menemanimu di Surga.”

Beliau kembali bertanya: “Adakah yang lain?”

Dia menjawab: “Hanya itu.”

Beliau bersabda: “Bantulah aku dengan cara engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim).

Baca tulisan berikutnya : Muhammad SAW. Sang Inspirator (4)

Ucapan itu merupakan kalimat terindah yang pernah Rabi’ah dengar sepanjang hidupnya. Peristiwa teragung dalam hayatnya. Dia tidak meriwayatkan hadits keseharian lain yang juga pernah dia alami. Dia tenggelam dalam peristiwa penuh berkah itu dengan penuh kebahagiaan.

Sumber : Muhammad Sang Inspirator Dunia

Judul Asli : Mulhim Al-‘Alam

Karya : Dr Aidh Al-Qarni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *